Selasa, 30 November 2010
Rabu, 14 Juli 2010
Enlighten
"Bersabarlah...Kita tidak akan disedihkan, tanpa di siapkan KEBAHAGIAAN.
"Kita tidak akan digalaukan, tanpa dibangunkan KEDAMAIAN.
Dan kita tidak mungkin direndahkan, tanpa disusunkan DERAJAT yang TINGGI.
Karena IMAN itu INDAH. ( MT)
"Kita tidak akan digalaukan, tanpa dibangunkan KEDAMAIAN.
Dan kita tidak mungkin direndahkan, tanpa disusunkan DERAJAT yang TINGGI.
Karena IMAN itu INDAH. ( MT)
"Jangan takut merasa kecewa karena orang tidak menghargai kebaikan kita. Marilah kita takut mengecewakan Allah karena menghindari perilaku yang menjadikan kita ORANG BAIK, yang menjadi ALASAN BAGI ALLAH UNTUK MEMPERBAIKI REZEKI KITA.
Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. dan sebaik-baik pembayar adalah ALLAH, karena ikhlas itu indah. (MT)
Minggu, 13 Juni 2010
My aplication letter
Jakarta, June, 14th 2010
Dear Madam,
This is to forward my application for a teaching position in your school. I am very pleased and interested to impart my knowledge that I have gained in order to enhance the students efficiency and capability. I am a graduate of D3 of UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, and now I am still taking my college in Idraprasta University on English program for last term.
I attended hone my ability in organizing students and at the same handling classroom management. I am confident enough that I could contribute to the best of my ability to the schools vision of producing excellent and graduates.
I have student teaching experience on the second and third grade level on the yunior high school for approximately ten years at MTs Sa’adatuddarain as a social sciences until now. I am also have student teaching experience on the English course at ISEC ( Istikmal English course) for kids and teens level since 2005.
It is my goal to combine my range of experience with my ability to be a compassionate, enthusiastic, intelligent teacher who will make a positive contribution to your school. I would welcome on interview and hope to hear from you at your earliest convenience.
Sincerely yours
Siti Falah Muslimah
CURRICULLUM VITAE
1. Name : Siti Falah Muslimah
2. Date and Place of Birth : Jakarta, August 21st 1974
3. Address : Jl. Mampang Prapatan XV/13 A
Rt 013/01 Tegal Parang Mampang Prapatan South Jakarta
4. Phone/Hp : 021 93828648/ 085693952643
5. Status : Single
6. Educational Background : 1. Graduated of MI Sa’adatuddarain in 1986
2. Graduated of MTs Sa’adatuddarain in 1990
3. Graduated of MAN I Filial Mampang in 1993
4. S1 of UNJ Fashion design program in 1994-1998
(not finished)
5. Graduated of D3 of UIN Syarif Hidayatullah PAI
In 2005
6. S1 of Indraprasta University English program
In 2006-now (the last term)
7. Non Formal Education : Basic level fashion course at Juliana jaya in 1993
8. Experiences : 1. As a teacher of Social Sciences at MTs Sa’adatuddarain
In 1999 until now
2. As a teacher of TPA Nurul Falah in 1998 until now
3. As a teacher of ISEC English course in 2005 until now
That is all information about me. I am responsible of this in the future if there is some imitation information.
Jumat, 11 Juni 2010
soal-soal ips kelas 8
I. Pilihlah salah satu jawaban yang kamu anggap benar!
- 1. Alasan Jepang membentuk BPUPKI adalah…
- a. Jepang benar-benar berniat untuk memberi hadiah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia
- b. Jepang banyak mengalami kekalahan dari sekutu dan ingin mendapat simpati dari bangsa Indonesia
- c. Badan ini dikhususkan untuk membantu perang Jepang melawan sekutu
- d. Rakyat Indonesia mulai berhasil menanamkan pengaruhnya terhadap pemerintah Jepang
- 2. Konstitusi Negara RI dirancang dan dibahas dalam sidang BPUPKI yang ke-2 pada tanggal…
- a. 29 Mei – 1 Juni 1945 b. 22 Juni 1945 c. 10 – 16 Juli 1945 d. 18 Agustus 1945
- 3. Nama lain dari BPUPKI adalah…
- a. Dokuritsu Junbi Inkai c. Keimin bunka Syidosyo
- b. Dokuritsu Junbi Cosakai d. Chuo Sang In
- 4. Hasil dari keputusan sidang BPUPKI yang pertama adalah…
- a. mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden c. terbentuknya UUD 1945
- b. membentuk BKR d. terbentuknya dasar Negara RI
- 5. PPKI di bentuk pada tanggal…
- a. 7 Agustus 1945 b. 17 Agustus 1945 c. 1 Maret 1945 d. 7 Maret 1945
- 6. Yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa Rengasdengklok adalah…
- a. Penolakan bung Karno dan bung Hatta atas keinginan golongan muda
- b. Ketidaksenangan golongan muda atas tindakan bung Karno
- c. Keinginan golongan tua supaya kemerdekaan Indonesia mengikuti kehendak Jepang
- d. Pertengkaran antara golongan muda dengan golongan muda yang diketahui Jepang
- 7. Perbedaan antara golongan tua dan muda sehingga terjadi peristiwa Rengasdengklok yaitu masalah…
- a. tempat b. waktu c. cara d. proklamasi
- 8. Perumusan dan penulisan teks proklamasi dilakukan di kediaman…
- a. Ir. Soekarno b. Drs. Moh Hatta c. Sukarni d. Laksmana Maeda
- 9. Dukungan spontan rakyat Indonesia setelah mendengar berita kemerdekaan Indonesia pada tanggal 19 September 1945 di Jakarta yaitu…
- a. Insiden bendera di hotel Yamato c. bergabungnya rakyat Yogyakarta
- b. Rapat rakskasa di lapangan IKADA d. pertempuran 5 hari di semarang
- 10. Alat kelengkapan Negara yang dibentuk setelah sidang PPKI yang pertama adalah….
- a. UUD 1945 b. dasar Negara c. parlemen d. kementrian
- 11. Yang termasuk bentuk hubungan sosial diasosiatif adalah…
- a. kerjasama b. konflik c. akulturasi d. kompromi
- 12. Faktor-faktor pendorong hubungan sosial yaitu…
- a . adaptasi-imitasi-sugesti-simpati c. sugesti-imitasi-adaptasi-koalisi
- b. Imitasi-sugesti-identifikasi-simpati d. kolusi-empati-sugesti-simpati
- 13. Salah satu faktor pendorong hubungan sosial yang berarti proses seseorang merasa tertarik pada pihak lain adalah…
- a. Imitasi b. sugesti c. simpati d.empati
- 14. Bentuk hubungan sosial yang yang menjadi syarat agar interaksi sosial terbentuk adalah…
- a. Kontak individu dan budaya c. komunikasi dan kerjasama
- b. Komunikasi dan kontak individu d. sugesti dan sosialisasi
- 15. Dampak negatif dari suatu hubungan sosial yaitu terjadinya…
- a. Kerjasama b. pertikaian c. akulturasi d. akomodasi
- 16. Berikut ini adalah jenis pranata sosial yaitu…
- a. LSM b. masyarakat c. individu d. sekolah
- 17. Pranata yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan-Nya disebut pranata…
- a. Agama b. keluarga c. ekonomi d. pendidikan
- 18. Cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengembalikan para penyimpang disebut…
- a. Penyimpangan sosial b. pengendalian sosial c. interaksi sosial d. pranata sosial
- 19. Jenis pengendalian sosial yang bersifat positif yaitu…
- a. Koersif b. refresif c. preventif d. persuasif
- 20. Seorang ustadz memberikan nasihat dihadapan para jama’ahnya, merupakan jenis pengendalian…
- a. Individu terhadap individu c. individu terhadap kelompok
- b. Kelompok terhadap individu d. kelompok terhadap kelompok
- 21. Penduduk yang telah memasuki usia kerja, baik yang yang sudah bekerja/belum bekerja disebut…
- a. Non produktif b. pencari kerja c. tenaga kerja d. penganggur
- 22. Siswa SMP kelas VIII termasuk kategori…
- a. pengangguran b. bukan usia kerja c. angkatan kerja d. usia produktif
- 23. Untuk memperluas kesempatan kerja peemerintah melakukan usaha ……..
- a. perkembangan industri padat karya c. memperbanyak kursus
- b. menambah BLK d. meminjam modal untuk perumahan
- 24. Pengertian menganggur di Indonesia adalah…
- a. Sama sekali tidak punya pekerjaan c. tidak bekerja karena cuti hamil
- b. Sedang mencari pekerjaan d. berhenti bekerja karena gaji tidak sesuai
- 25. Masalah serius di Indonesia yang berkaitan dengan mutu tenaga kerja Indonesia adalah…
- a. Kesehatan c. pendidikan yang rendah
- b. Program KB d. angkatan kerja yang rendah
II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan baik !
- 1. Kapan Piagam Jakarta dibentuk? Dan tuliskan isi piagam Jakarta!
- 2. Kapan PPKI di bentuk dan apa kepanjangan dari PPKI!
- 3. Tuliskan peran pranata keluarga dalam pembentukan kepibadian!
- 4. Tuliskan fungsi pranata sosial !
- 5. Jelaskan pengertian kesempatan kerja!
Rabu, 09 Juni 2010
How to study smarter Get Better
Here's a more detailed breakdown of the tools, techniques and strategies you'll find in Get The Best Grades With the Least Amount of Effort.
You’ll discover:The simple FORMULA to help you hop from the grades you‘re getting to the grades that make you proud, without studying harder.
- How to wipe out bad study habits and achieve academic excellence.
- A little-known secret of becoming a SUPER-LEARNER - even if you think you’re an illiterate drop-out!
- How to finish your homework faster, get ready for your tests and exams in a split-second, and spend the rest of the day doing the things you want to do
- The 5-step system you can use to organize your academic work, social activities, sports and family responsibilities around your "peak performance periods" for maximum results
- How to excel at sports, have an active social life and still get As and Bs in most of your subjects WITHOUT staying up past midnight to do your homework
6 powerful methods for remembering everything the teacher says and passing any exam or test (while still having fun)
- How you can quickly & easily make hard-to-remember details STICK in your mind effortlessly and recall facts with a snap of your fingers during exams and tests.
- What to do when you get a bad grade, despite doing everything right.
7 studying shortcuts that save time WITHOUT compromising results, so you can complete your schoolwork in the shortest time possible.
- How to ace exams each and every time
- How to finish your homework and school assignments BEFORE you get back home from school!
- Should you do your reading for all your subjects in ONE sitting? Find out the truth...
- How to develop razor-sharp analytical and diagnostic skills that will not only boost your exam performance but also help land you a dream job.
- How to determine exactly what will be on your next exam.
- What PEAK PERFORMANCE athletes and SUPER-ACHIEVERS have in common… and how that can help you to get As & Bs WITHOUT doing extra credit projects to balance out your test scores.
How to improve your concentration and focus and master any skill, subject or aptitude without sweating bullets!
- A 1-page cheat-sheet to help you get the edge by learning success strategies guaranteed to boost your marks and relieve your anxiety in less than a week!
My best learning tip
Siti
When I was taking math in college I had a real problem with proofs
and theorems. If you take any college calculus you'll run into
these things constantly. They are highly theoretical and because of
that I had a problem understanding them.
This was my biggest weakness, I tended to have a lack of interest in
topics that I could not find a real application for.
Does this sound familiar?
In my head, I would always ask? How can this be used in a practical
application? It was kind of like studying the theory of making
candy without ever tasting it. But once you tasted it, you'll be a
lot more excited about learning how to make it, right?
My Tip!
To make my difficult topics more interesting, I always search
to find practical examples of what I'm learning can be
applied. I would start by asking the professor, "How is this
theorem used in a practical application?
I would almost always get a smile and the professor would start to
show how it was applied. That helped me be more motivated and
excited about everything I learned.
That's how Calculus became my favorite course in college, thanks to
my desire to find out how to apply what I learned and the
professors who were willing to share.
If you are interested in learning more about techniques that can
help tough subjects be easier to learn and to even excel in then
please try this book that has been helpful to me:
5 Minute Learning Machine
http://www.ldpride.net/r1 <---Click
You could read it over the weekend and be ready to take on the
world on Monday.
Kindest Regards,
Ernest
P.S. The 5 Minute Learning Machine teaches practical tips you can
use to learn many more techniques.
http://www.ldpride.net/r1 <---Click
Coolinvite, 14271 Jeffrey #3, Irvine, CA 92620, USA
When I was taking math in college I had a real problem with proofs
and theorems. If you take any college calculus you'll run into
these things constantly. They are highly theoretical and because of
that I had a problem understanding them.
This was my biggest weakness, I tended to have a lack of interest in
topics that I could not find a real application for.
Does this sound familiar?
In my head, I would always ask? How can this be used in a practical
application? It was kind of like studying the theory of making
candy without ever tasting it. But once you tasted it, you'll be a
lot more excited about learning how to make it, right?
My Tip!
To make my difficult topics more interesting, I always search
to find practical examples of what I'm learning can be
applied. I would start by asking the professor, "How is this
theorem used in a practical application?
I would almost always get a smile and the professor would start to
show how it was applied. That helped me be more motivated and
excited about everything I learned.
That's how Calculus became my favorite course in college, thanks to
my desire to find out how to apply what I learned and the
professors who were willing to share.
If you are interested in learning more about techniques that can
help tough subjects be easier to learn and to even excel in then
please try this book that has been helpful to me:
5 Minute Learning Machine
http://www.ldpride.net/r1 <---Click
You could read it over the weekend and be ready to take on the
world on Monday.
Kindest Regards,
Ernest
P.S. The 5 Minute Learning Machine teaches practical tips you can
use to learn many more techniques.
http://www.ldpride.net/r1 <---Click
Coolinvite, 14271 Jeffrey #3, Irvine, CA 92620, USA
class display
Class Display Science
Apakah ada yang menarik menurutmu?
Minggu, 06 Juni 2010
Sepotong Cerpen Untuk Guruku
SEPOTONG CERPEN UNTUK ‘GURUKU’
Oleh : Djenar Maehasa Ayu
Sumber: Readers Digest Indonesia April 2010, h.25 - 28
Gara-gara sebuah cerpen yang mampu menggetarkan hati, saya kembali menyiapkan alat tulis dan menulis lagi.
Secara tak sengaja saya menemukan sebuah cerpen di surat kabar ternama negeri ini. ‘Sepotong Senja Buat Pacarku’, (1993) begitu judul cerpen itu. Ah, begitu absurd judulnya! Apa sih maksudnya dengan senja yang hanya sepotong? Berawal dari judul yang ajaib itu, saya langsung terprovokasi untuk terus membaca kelanjutan isi cerpen tersebut.
Penulis cerpen tersebut menurut saya memang benar-benar gila! Dia berhasil membuat saya – manusia yang malas membaca – untuk terus mengikuti kisah mengenai seorang pencuri senja sampai habis tuntas. Seno Gumira Ajidarma, begitu nama penulis cerpen itu. Nama itu terekam kuat di kepala.
Saat membaca cerpen itu saya masih berusia 19 dan sedang ditinggal oleh suami saya (sekarang mantan suami), yang tengah menyelesaikan kuliah di luar negeri. Mungkin karena ada rasa cinta dan rindu yang mendalam saat membacanya, saya melihat bahwa tak ada ungkapan cinta yang lebih sempurna, dari sebuah cerpen yang ceritakan begitu cintanya seorang lelaki pada kekasihnya sampai-sampai ia memotong senja sebesar kartu pos, yang tentu saja membuat geger satu kota.
Saya merasa harus berbagi cerpen itu pada pasangan saya. Dengan keinginan menggebu, saya menuliskan ulang cerpen. Yah, saya benar-benar menyalin cerpen itu dengan tulisan tangn dan mengirimkannya lewat pos padanya. Saya ingin agar dia tahu perasaan saya kepadanya sama seperti isi cerpen itu. Sayangnya, walau dia mengagumi usaha saya menulis ulang isi cerpen itu, dia hanya bisa bertanya ‘huh? Apa sih maksudnya cerita ini?’ Hahaha… saya jadi kesal sendiri.
Tapi ada hal baik yan dihasilkan dari tindakan saya menulis ulang cerpen itu. Saya tiba-tiba merasakan keinginan yang kuat untuk kembali menulis. Sebuah kegiatan yang dulu saya rajin lakukan saat Sekolah Dasar. KEtika menulis ulang kata-kata imajinatif Seno, saya mengenang kegemaran saya terhadap cerita-cerita Hans Christian Andersen. Saat pena saya bergerak menuliskan kembali kata-kata Seno, saya kembali merasakan nikmatnya menulis – sebuah kegiatan yang saya tinggalkan saat SMP dan SMA karena terlalu sibuk berpacaran.
Saya langsung merengek minta dibelikan mesin tik kepada suami saya. Dia hanya tertawa dan berkata, ‘Ih norak banget sih! Sekarang kan jamannya computer!’ Akhirnya saya dibelikan seperangkat computer – sebuah alat yang sering saya abused karena saya menulis tanpa henti seperti orang kerasukan. Cerpen milik Seno itu menjadi sebuah suntikan penyemangat yang ampuh.
Hasilnya? Sebuah cerita pendek berjudul ‘MAti’ menjadi karya saya yang pertama. Cerpen itu – besama empat lainnya – saya kirim pada Seno. Karena tak tahu alamat Seno, saya mengirimkannya kepada majalah tempat Seno bekerja, dengan harapan kelima karya itu ia baca dan diberi komentar, oleh karena itu saya juga mengirim data lengkap termasuk telepon dan alamat rumah.
Beberapa hari setelah itu saya menerima panggilan telepon. Coba tebak siapa yang menelepon? Ya, orang yang menelepon bernama lengkap Seno Gumira Ajidarma. Dia tertarik dengan karya saya! Bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Seorang penulis yang saya kagumi tulisannya, menelepon untuk membahas tulisan saya! Wah!
Selama beberapa jam kami berbicara. Mendiskusikan cerpen-cerpen yang saya kirim kepadanya. Saya merasa kaki tak menapak bumi. Saya menikmati sekali obrolan itu. Tak rela rasanya saya meletakkan gagang telepon untuk melakukan kegiatan lain, selain bicara dan berdiskusi dengan Seno. Sampai saya terpaksa menahan keinginan untuk ke kamar kecil agar tak perlu memutuskan obrolan kamu. Nanti kalau Seno tidak menelopn lagi, bagaimana? Begitu piker saya. Walhasil, saya terpaksa menarik keranjang sampah yang ada di sebelah meja telepon dan buang air kecil di sana karena benar-benar sudah kebelet saat di tengah sebuah obrolan seru.
Obrolan dengan Seno terus berlanjut beberapa kali setelah telepon pertama itu. Pada percakapan kami selanjutnya, kami membicarakan mengenai cerpen Sepotong Senja Buat Pacarku yang menjadi inspirasi saya untuk menulis kembali. Saat mendapati saya banyak bertanya mengenai tulisannya, Seno menanyakan apakah saya sudah membaca bukunya. “Wah, emang udah punya buku?” itu reaksi saya yang polis.
“Waduh, kamu ini payah banget!” ujar Seno. Setelah mendengar pengakuan saya yang tak suka membaca, tiba-tiba Seno menawarkan sesuatu yang tak mungkin saya tolak. “Kamu mau ikut kelas menulis kreatif saya di IKJ, ngak?” pertanyaan itu meluncur dengan santai. Saya mengiyakan tanpa piker panjang,
Hari pertama masuk kelas di
Sebuah institusi kesenian membuat saya merasa canggung. Saat absensi kelas diedarkan, saya tak tahu harus melakukan apa dengan lembaran itu. Tapi melihat yang lain mengisi namanya, yah saya ikut melakukannya. Kecanggungan tak berhenti di situ saja. Saat untuk pertama kali melihat ‘guru’ saya masuk ke ruangan kelas, kejutan-kejutan lain menanti saya.
“Nulis!” hanya itu yang diucapkan Seno pada kami yang berada di kelas itu sambil memasang music klasik yang memenuhi satu ruangan. Apa?! Nulis apa? Hampir semua anak di kelas – termasuk saya – bingung sambil mencoba mencerna maksud Seno. Setelah satu jam berlalu, kami diminta membuat esai berdasarkan buku berjudul Esai mengenai Esai di rumah untuk diserahkan pada pertemuan selanjutnya.
Pertemuan kedua dengan kelas Seno masih memberikan kejutan. Saat berada di depan kelas, Seno membaca hasil tulisan kami yang dibuat minggu lalu. Dia pilih tulisan yang menurutnya paling baik dan dibacakan di depan kelas dan diperlihatkan mengapa tulisan tersebut dianggapnya baik. Melihat itu, saya punya obsesi membuat Seno membacakan tulisan saya di depan kelas itu. Kesempatan itu muncul saat Seno – seperti minggu sebelumnya berujar, “Nulis!” seraya menyalakan musik Rock yang kencang di kelas.Karena pengalaman minggu sebelumnya, saya sudah siap menulis. Apalagi ditambah dengan keinginan kuat agar tulisan saya dibaca di depan kelas.
Minggu ketiga, keadaannya masih sama. Yang beda adalah hari itu, tulisan saya yang dibacakan di kelas. “Ketika kalian sudah siap menulis hasilnya akan lebih baik disbanding dengan hari pertama saat kalian tak tahu apa-apa dan tidak siap,” begitu ujar Seno yang menunjukkan kepada kami semua bahwa saat siap menulis, tak peduli music apa yang sedang diputar, pasti semuanya tak akan menganggu konsentrasi menulis. Mendengar itu saya berjanji untuk selalu siap untuk menulis dan menulis saat sudah siap menulis, dan hal itu saya ingin tunjukkan di kelas menulis ini dengan cara berusaha agar tulisan saya dibacakan di depan kelas. Ada keinginan kuat dalam diri saya untuk membuat Seno kagum akan karya saya, dan hal itu selalu terjadi di hari-hari selanjutnya, karea tulisan-tulisan saya selalu dibacakan di kelas.
Setelah satu semester mengikuti kelas penulisan kreatif yang luar biasa itu, saya akhirnya bertemu secara langsung dengan Seno. Pertemuan dengan ‘guru’ yang biasanya hanya melalui telepon dan di kelas bersama mahasiswa lain, kini bisa dilakukan secara langsung.
Hari pertama kami bertemu itu, Seno langsung mengajak saya ke Bengkel Buku di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbekal dua plastic keranjang sampah besar, Seno mengambil berbagai buku di toko itu sampai kedua plastik itu penuh sesak. ‘Baca ini semua dan kita akan diskusikan semua buku yang ada itu satu per satu,” ujar Seno sambil menyodorkan kedua plastik itu.
Ternyata pelajaran belum selesai. Seno memaksa saya membaca buku-buku yang baik untuk modal menjadi penulis yang baik. Diskusi-diskusi bersamanya menambah wawasan saya. Dia adalah salah satu Orang dalam hidup saya yang saya anggap sebagai ‘guru’ dalam menulis.
Walau lelah dan sulit, selain mendapatkan berbagai ilmu lewat buku dan berdiskusi dengan Seno, semua hal ini ternyata punya nilai plus lain. Saat teman saya, Richard Oh, datang ke rumah saya dan melihat rak buku saya, dia sampai terkejut. “Wah, gila!Buku-buku ‘lo bagus-bagus banget!” Saya hanya tersenyum. Wah, dia tidak tahu bahwa ‘guruku’, Seno Gumira Ajidarma, yang memiliki sebagian besar buku itu. Tentu saja keren!
---
Djenar telah menulis buku Mereka Bilang, Saya Monyet (2003), Jangan Main-main (dengan kelaminmu) (2005), Nayla (2005), Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek (2006). Cerpennya berjudul Waktu Nyala adalah Cerpen Terbaik Kompas 2003 dan cerpen Menyusu Ayah dinobatkan menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal perempuan. Kini Djenar tengah menyiapkan film ketiganya, setelah menyutradarai film Mereka Bilang Saya Monyet (2007) dan Saia (2008)
Oleh : Djenar Maehasa Ayu
Sumber: Readers Digest Indonesia April 2010, h.25 - 28
Gara-gara sebuah cerpen yang mampu menggetarkan hati, saya kembali menyiapkan alat tulis dan menulis lagi.
Secara tak sengaja saya menemukan sebuah cerpen di surat kabar ternama negeri ini. ‘Sepotong Senja Buat Pacarku’, (1993) begitu judul cerpen itu. Ah, begitu absurd judulnya! Apa sih maksudnya dengan senja yang hanya sepotong? Berawal dari judul yang ajaib itu, saya langsung terprovokasi untuk terus membaca kelanjutan isi cerpen tersebut.
Penulis cerpen tersebut menurut saya memang benar-benar gila! Dia berhasil membuat saya – manusia yang malas membaca – untuk terus mengikuti kisah mengenai seorang pencuri senja sampai habis tuntas. Seno Gumira Ajidarma, begitu nama penulis cerpen itu. Nama itu terekam kuat di kepala.
Saat membaca cerpen itu saya masih berusia 19 dan sedang ditinggal oleh suami saya (sekarang mantan suami), yang tengah menyelesaikan kuliah di luar negeri. Mungkin karena ada rasa cinta dan rindu yang mendalam saat membacanya, saya melihat bahwa tak ada ungkapan cinta yang lebih sempurna, dari sebuah cerpen yang ceritakan begitu cintanya seorang lelaki pada kekasihnya sampai-sampai ia memotong senja sebesar kartu pos, yang tentu saja membuat geger satu kota.
Saya merasa harus berbagi cerpen itu pada pasangan saya. Dengan keinginan menggebu, saya menuliskan ulang cerpen. Yah, saya benar-benar menyalin cerpen itu dengan tulisan tangn dan mengirimkannya lewat pos padanya. Saya ingin agar dia tahu perasaan saya kepadanya sama seperti isi cerpen itu. Sayangnya, walau dia mengagumi usaha saya menulis ulang isi cerpen itu, dia hanya bisa bertanya ‘huh? Apa sih maksudnya cerita ini?’ Hahaha… saya jadi kesal sendiri.
Tapi ada hal baik yan dihasilkan dari tindakan saya menulis ulang cerpen itu. Saya tiba-tiba merasakan keinginan yang kuat untuk kembali menulis. Sebuah kegiatan yang dulu saya rajin lakukan saat Sekolah Dasar. KEtika menulis ulang kata-kata imajinatif Seno, saya mengenang kegemaran saya terhadap cerita-cerita Hans Christian Andersen. Saat pena saya bergerak menuliskan kembali kata-kata Seno, saya kembali merasakan nikmatnya menulis – sebuah kegiatan yang saya tinggalkan saat SMP dan SMA karena terlalu sibuk berpacaran.
Saya langsung merengek minta dibelikan mesin tik kepada suami saya. Dia hanya tertawa dan berkata, ‘Ih norak banget sih! Sekarang kan jamannya computer!’ Akhirnya saya dibelikan seperangkat computer – sebuah alat yang sering saya abused karena saya menulis tanpa henti seperti orang kerasukan. Cerpen milik Seno itu menjadi sebuah suntikan penyemangat yang ampuh.
Hasilnya? Sebuah cerita pendek berjudul ‘MAti’ menjadi karya saya yang pertama. Cerpen itu – besama empat lainnya – saya kirim pada Seno. Karena tak tahu alamat Seno, saya mengirimkannya kepada majalah tempat Seno bekerja, dengan harapan kelima karya itu ia baca dan diberi komentar, oleh karena itu saya juga mengirim data lengkap termasuk telepon dan alamat rumah.
Beberapa hari setelah itu saya menerima panggilan telepon. Coba tebak siapa yang menelepon? Ya, orang yang menelepon bernama lengkap Seno Gumira Ajidarma. Dia tertarik dengan karya saya! Bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu? Seorang penulis yang saya kagumi tulisannya, menelepon untuk membahas tulisan saya! Wah!
Selama beberapa jam kami berbicara. Mendiskusikan cerpen-cerpen yang saya kirim kepadanya. Saya merasa kaki tak menapak bumi. Saya menikmati sekali obrolan itu. Tak rela rasanya saya meletakkan gagang telepon untuk melakukan kegiatan lain, selain bicara dan berdiskusi dengan Seno. Sampai saya terpaksa menahan keinginan untuk ke kamar kecil agar tak perlu memutuskan obrolan kamu. Nanti kalau Seno tidak menelopn lagi, bagaimana? Begitu piker saya. Walhasil, saya terpaksa menarik keranjang sampah yang ada di sebelah meja telepon dan buang air kecil di sana karena benar-benar sudah kebelet saat di tengah sebuah obrolan seru.
Obrolan dengan Seno terus berlanjut beberapa kali setelah telepon pertama itu. Pada percakapan kami selanjutnya, kami membicarakan mengenai cerpen Sepotong Senja Buat Pacarku yang menjadi inspirasi saya untuk menulis kembali. Saat mendapati saya banyak bertanya mengenai tulisannya, Seno menanyakan apakah saya sudah membaca bukunya. “Wah, emang udah punya buku?” itu reaksi saya yang polis.
“Waduh, kamu ini payah banget!” ujar Seno. Setelah mendengar pengakuan saya yang tak suka membaca, tiba-tiba Seno menawarkan sesuatu yang tak mungkin saya tolak. “Kamu mau ikut kelas menulis kreatif saya di IKJ, ngak?” pertanyaan itu meluncur dengan santai. Saya mengiyakan tanpa piker panjang,
Hari pertama masuk kelas di
Sebuah institusi kesenian membuat saya merasa canggung. Saat absensi kelas diedarkan, saya tak tahu harus melakukan apa dengan lembaran itu. Tapi melihat yang lain mengisi namanya, yah saya ikut melakukannya. Kecanggungan tak berhenti di situ saja. Saat untuk pertama kali melihat ‘guru’ saya masuk ke ruangan kelas, kejutan-kejutan lain menanti saya.
“Nulis!” hanya itu yang diucapkan Seno pada kami yang berada di kelas itu sambil memasang music klasik yang memenuhi satu ruangan. Apa?! Nulis apa? Hampir semua anak di kelas – termasuk saya – bingung sambil mencoba mencerna maksud Seno. Setelah satu jam berlalu, kami diminta membuat esai berdasarkan buku berjudul Esai mengenai Esai di rumah untuk diserahkan pada pertemuan selanjutnya.
Pertemuan kedua dengan kelas Seno masih memberikan kejutan. Saat berada di depan kelas, Seno membaca hasil tulisan kami yang dibuat minggu lalu. Dia pilih tulisan yang menurutnya paling baik dan dibacakan di depan kelas dan diperlihatkan mengapa tulisan tersebut dianggapnya baik. Melihat itu, saya punya obsesi membuat Seno membacakan tulisan saya di depan kelas itu. Kesempatan itu muncul saat Seno – seperti minggu sebelumnya berujar, “Nulis!” seraya menyalakan musik Rock yang kencang di kelas.Karena pengalaman minggu sebelumnya, saya sudah siap menulis. Apalagi ditambah dengan keinginan kuat agar tulisan saya dibaca di depan kelas.
Minggu ketiga, keadaannya masih sama. Yang beda adalah hari itu, tulisan saya yang dibacakan di kelas. “Ketika kalian sudah siap menulis hasilnya akan lebih baik disbanding dengan hari pertama saat kalian tak tahu apa-apa dan tidak siap,” begitu ujar Seno yang menunjukkan kepada kami semua bahwa saat siap menulis, tak peduli music apa yang sedang diputar, pasti semuanya tak akan menganggu konsentrasi menulis. Mendengar itu saya berjanji untuk selalu siap untuk menulis dan menulis saat sudah siap menulis, dan hal itu saya ingin tunjukkan di kelas menulis ini dengan cara berusaha agar tulisan saya dibacakan di depan kelas. Ada keinginan kuat dalam diri saya untuk membuat Seno kagum akan karya saya, dan hal itu selalu terjadi di hari-hari selanjutnya, karea tulisan-tulisan saya selalu dibacakan di kelas.
Setelah satu semester mengikuti kelas penulisan kreatif yang luar biasa itu, saya akhirnya bertemu secara langsung dengan Seno. Pertemuan dengan ‘guru’ yang biasanya hanya melalui telepon dan di kelas bersama mahasiswa lain, kini bisa dilakukan secara langsung.
Hari pertama kami bertemu itu, Seno langsung mengajak saya ke Bengkel Buku di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbekal dua plastic keranjang sampah besar, Seno mengambil berbagai buku di toko itu sampai kedua plastik itu penuh sesak. ‘Baca ini semua dan kita akan diskusikan semua buku yang ada itu satu per satu,” ujar Seno sambil menyodorkan kedua plastik itu.
Ternyata pelajaran belum selesai. Seno memaksa saya membaca buku-buku yang baik untuk modal menjadi penulis yang baik. Diskusi-diskusi bersamanya menambah wawasan saya. Dia adalah salah satu Orang dalam hidup saya yang saya anggap sebagai ‘guru’ dalam menulis.
Walau lelah dan sulit, selain mendapatkan berbagai ilmu lewat buku dan berdiskusi dengan Seno, semua hal ini ternyata punya nilai plus lain. Saat teman saya, Richard Oh, datang ke rumah saya dan melihat rak buku saya, dia sampai terkejut. “Wah, gila!Buku-buku ‘lo bagus-bagus banget!” Saya hanya tersenyum. Wah, dia tidak tahu bahwa ‘guruku’, Seno Gumira Ajidarma, yang memiliki sebagian besar buku itu. Tentu saja keren!
---
Djenar telah menulis buku Mereka Bilang, Saya Monyet (2003), Jangan Main-main (dengan kelaminmu) (2005), Nayla (2005), Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek (2006). Cerpennya berjudul Waktu Nyala adalah Cerpen Terbaik Kompas 2003 dan cerpen Menyusu Ayah dinobatkan menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal perempuan. Kini Djenar tengah menyiapkan film ketiganya, setelah menyutradarai film Mereka Bilang Saya Monyet (2007) dan Saia (2008)
__._,_.___
Langganan:
Postingan (Atom)



